Detektif Kalender Islam: Menelusuri Kelahiran Nabi Antara Teks Sejarah dan Kalkulasi Falak

Detektif Kalender Islam: Menelusuri Kelahiran Nabi Antara Teks Sejarah dan Kalkulasi Falak


Penetapan tanggal kelahiran Nabi Muhammad Saw merupakan salah satu topik yang senantiasa memicu diskusi ilmiah di kalangan pakar sejarah (tarikh) dan ahli astronomi Islam (falak). Meskipun terdapat kesepakatan bulat (ijma') mengenai hari kelahiran beliau pada hari Senin di bulan Rabiul Awal Tahun Gajah, terdapat beberapa variasi pendapat terkait tanggal kepastiannya. Seluruh sejarawan dan ulama sepakat berdasarkan riwayat shahih Muslim bahwa Rasulullah Saw dilahirkan pada hari Senin di bulan Rabiul Awal pada Tahun Gajah (571 Masehi).


عَنْ أبِي قَتادَةَ الأنْصارِيِّ،  أنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقالَ: فِيهِ وُلِدْتُ وفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (صحيح مسلم: ج٣، ص٢٧٨)

“Diriwayatkan dari Abi Qatadah al-Ansari, sesungguhnya Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau menjawab : Pada hari itu aku dilahirkan, dan pada hari itu diturunkannya Al-Qur’an kepadaku” (HR.Muslim Juz 3, Hal. 278).

 Hadist di atas menjadi dasar yang kuat bahwa hari Senin memiliki kedudukan penting dalam pembahasan ini. Namun, perdebatan muncul ketika menentukan tanggal spesifik pada kalender Hijriah 'Urfi maupun Hakiki. Ditinjau dari historiografi Islam, perbedaan ini bersumber dari metode penentuan yang digunakan, sebagian menekankan pada transmisi riwayat teks, sedangkan yang lain menggunakan koreksi perhitungan astronomi matematika (hisab hakiki).

Ditinjau dari khazanah literatur Klasik hingga Kontemporer, perbedaan mengenai tanggal kelahiran Rasulullah Saw terbagi ke dalam tujuh pendapat utama. Masing-masing sudut pandang memiliki pijakan ilmiah, mulai dari hadist hingga kecermatan kalkulasi astronomi (hisab hakiki).

  1. Pendapat Tanggal 12 Rabi'ul Awwal (Pendapat Mayoritas / Jumhur)

Pendapat ini merupakan pandangan yang paling populer (masyhur) secara sosial keagamaan di tengah mayoritas umat Islam dunia. Ditinjau dari historiografi, angka 12 Rabiul Awal bersumber dari kodifikasi sirah paling awal yang disusun oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam, yang kemudian dipedomani sebagai simbol peringatan Hari Maulid Nabi hingga hari ini.

ابْنُ إِسْحَاقَ يُحَدِّدُ الْمِيلَادَ: قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ هِشَامٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْبَكَّائِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: وُلِدَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيعِ الْأَوَّلِ، عَامَ الْفِيلِ. (السيرة النبوية لابن هشام: ج١، ص١٨٣)

“Ibnu Ishaq menetapkan waktu kelahiran: Ia berkata: Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ziyad bin Abdullah al-Baka’i telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, ia berkata: Rasulullah SAw dilahirkan pada hari Senin, pada malam kedua belas yang telah berlalu dari bulan Rabiul Awal, pada Tahun Gajah.” (al-Siroh al-Nabawiyah li Ibn Hisyam: Juz 1, Hal. 183).

  1. Pendapat Tanggal 8 Rabi'ul Awwal

Pandangan ini dianut secara dominan oleh para pakar hadis, di antaranya Imam Malik, Ibnu Hazm, serta Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr. Pendekatan ini sangat mengandalkan kesahihan jalur transmisi sanad yang bersumber dari tabi'in senior.

وَقِيلَ: لِثَمَانٍ خَلَوْنَ مِنْهُ. حَكَاهُ الْحُمَيْدِيُّ عَنْ ابْنِ حَزْمٍ، وَرَوَاهُ مَالِكٌ وَعَقِيلٌ وَيُونُسُ بْنُ يَزِيدَ وَغَيْرُهُمْ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، وَنَقَلَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ أَصْحَابِ التَّارِيخِ أَنَّهُمْ صَحَّحُوهُ، وَقَطَعَ بِهِ الشَّيْخُ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ، وَكَانَ هُوَ الاِخْتِيَارُ لِلْأَكْثَرِينَ. (البداية والنهاية: ج٢، ص٢١٥).

"Dikatakan: Beliau lahir pada tanggal 8 Rabiul Awal. Diriwayatkan oleh al-Humaidi dari Ibn Hazm, dan diriwayatkan oleh Malik, 'Aqil, Yunus bin Yazid, dan lainnya dari al-Zuhri dari Muhammad bin Jubair bin Mut'im. Ibn Abd al-Barr mengutip dari para ahli sejarah bahwa mereka membenarkan pendapat ini, dan ditegaskan oleh Abu Umar bin Abd al-Barr, serta menjadi pilihan mayoritas ulama." (al-Bidayah wa al-Nihayah: Juz 2, Hal. 215).

  1. Pendapat Tanggal 9 Rabi'ul Awwal

Pendapat ini memberikan keterangan yang lebih rinci, tidak hanya mengenai hari dan tanggal kelahiran, tetapi juga mengenai tahun dan waktu terjadinya kelahiran. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw lahir pada hari Senin, 9 Rabiul Awal, pada tahun pertama dari Tahun Gajah, di Makkah al-Mukarramah, setelah fajar shadiq dan sebelum matahari terbit. Pendapat ini juga mengaitkan tanggal tersebut dengan 22 April 571 M. 

Menariknya menurut KH. Ahmad Ghozali MF Berdasarkan kriteria MABIMS, hilal belum memenuhi syarat karena umur hilal kurang dari 8 jam, tinggi hilal di bawah 3°, dan elongasi kurang dari 6°24′. Oleh karena itu, awal Rabiul Awal ditetapkan pada hari Ahad, sehingga kelahiran Rasulullah Saw yang terjadi pada hari Senin jatuh pada 9 Rabiul Awal. 

وُلِدَ نَبِيُّنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَصْلِ الرَّبِيعِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ فِي التَّاسِعِ مِنْ رَبِيعِ الْأَوَّلِ السَّنَةِ الْأُولَى مِنْ عَامِ الْفِيلِ الْمُوَافِقِ لِلثَّانِي وَالْعِشْرِينَ مِنْ أَبْرِيلَ سَنَةَ ٥٧١ م وَالْأَوَّلِ مِنْ جَيْتَهُ سَنَةَ ٦٢٨ بِكَرْمَى، وَذَلِكَ فِي مَكَّةَ الْمُكَرَّمَةِ بَعْدَ الْفَجْرِ الصَّادِقِ وَقَبْلَ شُرُوقِ الشَّمْسِ. وَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحِيدَ أَبَوَيْهِ وَقَدْ تُوُفِّيَ وَالِدُهُ قَبْلَ وِلَادَتِهِ. (رحمة للعالمين: ص٣٤)

“Nabi kita Saw dilahirkan pada musim semi, pada hari Senin, tanggal 9 Rabiul Awal, pada tahun pertama dari Tahun Gajah, yang bertepatan dengan tanggal 22 April tahun 571 Masehi dan tanggal pertama dari tahun 628 Bikarma. Peristiwa tersebut terjadi di Makkah al-Mukarramah, setelah terbit fajar shadiq dan sebelum matahari terbit. Nabi Saw merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya, dan ayah beliau telah wafat sebelum kelahiran beliau.”(Rohmah lil ‘Alamin: Hal. 34).

وَلَا تُمْكِنُ رُؤْيَتُهُ عَلَى مِعْيَارَيْ (MABIMS) الْأَوَّلِ وَالثَّانِي؛ لِأَنَّهُ عَلَى الْأَوَّلِ لَا يَبْلُغُ عُمْرُ الْهِلَالِ ٨ سَاعَاتٍ، فَإِنَّ مَا بَيْنَ الِاجْتِمَاعِ وَغُرُوبِ الشَّمْسِ ٧ سَاعَاتٍ وَ١١ دَقِيقَةً، وَعَلَى الثَّانِي يَكُونُ ارْتِفَاعُ الْهِلَالِ أَقَلَّ مِنْ ٣ دَرَجَاتٍ، وَزَاوِيَةُ الِاسْتِطَالَةِ أَقَلَّ مِنْ ٦ دَرَجَاتٍ وَ٢٤ دَقِيقَةً. وَعَلَى هَذَا يَكُونُ أَوَّلُ رَبِيعِ الْأَوَّلِ سَنَةَ -٥٢ يَوْمَ الْأَحَدِ، وَكَانَتْ وِلَادَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ لِتَاسِعِ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ. (إرشاد المريد: ص١٤٢).

“Namun, hilal tidak mungkin terlihat berdasarkan kriteria MABIMS pertama dan kedua. Menurut kriteria pertama, umur hilal belum mencapai 8 jam, karena jarak waktu antara ijtimak dan terbenamnya matahari hanya 7 jam 11 menit. Sedangkan menurut kriteria kedua, tinggi hilal kurang dari 3 derajat dan sudut elongasinya kurang dari 6 derajat 24 menit. Berdasarkan hal tersebut, awal bulan Rabiul Awal tahun -52 ditetapkan jatuh pada hari Ahad. Dengan demikian, kelahiran Rasulullah Saw yang terjadi pada hari Senin jatuh pada tanggal 9 bulan yang penuh berkah tersebut.” (Irsyad al-Murid: Hal. 142).

  1. Pendapat Tanggal 10 Rabi'ul Awwal

Pendapat ketiga ini memiliki akar riwayat klasik yang tersambung kepada Imam Abu Ja'far al-Baqir dan al-Hafizh al-Dzahabi. Dalam konteks kontemporer, penanggalan ini juga didukung oleh hasil perhitungan hisab hakiki (posisi astronomis hilal berbasis lokasi) yang diajarkan dalam tradisi pesantren Nusantara, salah satunya tercantum dalam risalah falak Irsyadul Murid.

وَقِيلَ لِعَشْرٍ خَلَتْ مِنْهُ نَقَلَهُ ابْنُ دِحْيَةَ فِي كِتَابِهِ وَرَوَاهُ ابْنُ عَسَاكِرَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْبَاقِرِ، وَرَوَاهُ مُجَالِدٌ عَنِ الشَّعْبِيِّ كَمَا مَرَّ. (البداية والنهاية: ج٢، ص٢١٥).

“Ada pula yang berpendapat bahwa kelahiran beliau terjadi pada tanggal sepuluh dari bulan tersebut. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Dahiyyah dalam kitabnya. Pendapat tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abu Ja‘far al-Baqir, dan diriwayatkan pula oleh Mujalid dari asy-Sya‘bi, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.”(al-Bidayah wa al-Nihayah: Juz 2, Hal. 215).

Dalam lembar hisab yang terdapat dalam kitab Irsyadul Murid, KH. Ahmad Ghozali MF melakukan hisab posisi bulan dan matahari. Hasil perhitungan hisab tersebut menyimpulkan bahwa tanggal 1 Rabi'ul Awwal pada tahun kelahiran Nabi (tahun 52 sebelum Hijrah) jatuh pada hari Sabtu Pahing. Berdasarkan hitungan ini, kelahiran Rasulullah Saw jatuh pada hari Senin Legi, tanggal 10 Rabi'ul Awwal.

فَعَلَى هَذَا يَكُونُ أَوَّلُ رَبِيعِ الْأَوَّلِ سَنَةَ -٥٢ يَوْمَ السَّبْتِ فَاهِيع، وَكَانَتْ وِلَادَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ لِلَيْلَةِ عَاشِرِ هَذَا الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ. (إرشاد المريد: ص١٤٢).

“Berdasarkan hal tersebut, awal bulan Rabiul Awal tahun -52 jatuh pada hari Sabtu, sehingga kelahiran Rasulullah Saw yang terjadi pada hari Senin jatuh pada tanggal 10 bulan yang penuh berkah tersebut.” (Irsyad al-Murid: Hal. 142).

  1. Pendapat Tanggal 2 Rabi'ul Awwal

Pendapat ini merujuk pada Nabi Muhammad Saw lahir ketika bulan Rabi'ul Awwal baru berjalan dua malam (tanggal 2) pendapat ini disampaikan oleh Abu Ma'syar Naji' bin Abdurrahman al-Madani (seorang ulama sejarah dari Madinah).

فَقِيلَ لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، قَالَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِي الِاسْتِيعَابِ، وَرَوَاهُ الْوَاقِدِيُّ عَنْ أَبِي مَعْشَرٍ نَجِيحِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَدَنِيِّ.  (البداية والنهاية: ج٢، ص٢١٥).

“Ada yang berpendapat bahwa kelahiran beliau terjadi setelah berlalu dua malam dari bulan tersebut. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibn Abd Barr dalam kitab Al-Isti'ab, dan diriwayatkan oleh al-Waqidi dari Abu Ma'syar Najih bin Abdurrahman al-Madani.” (al-Bidayah wa al-Nihayah: Juz 2, Hal. 215).

  1. Pendapat Tanggal 17 Rabi’ul Awwal

Ada pendapat lain yang kurang populer di Tanggal 17 Rabi'ul Awwal: Pendapat yang dinukil oleh Ibnu Dihyah dari sebagian kalangan Syiah.

وَقِيلَ: لِسَبْعٍ عَشْرَةَ، كَمَا نَقَلَهُ ابْنُ دِحْيَةَ عَنْ بَعْضِ الشِّيعَةِ. (البداية والنهاية: ج٢، ص٢١٥).

“Ada pula yang berpendapat bahwa kelahiran beliau terjadi pada tanggal 17, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Dahiyyah dari sebagian kalangan Syiah.” (al-Bidayah wa al-Nihayah: Juz 2, Hal. 215).

  1. Pendapat Bulan Ramadhan

Ada riwayat sangat asing (gharib) dari Az-Zubair bin Bakkar yang menyebut beliau lahir di bulan Ramadhan, namun pendapat ini ditolak oleh mayoritas ulama sejarah.

وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ وُلِدَ فِي رَمَضَانَ نَقَلَهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ بَكَّارٍ، وَهُوَ قَوْلٌ غَرِيبٌ جِدًّا، وَكَانَ مُسْتَنَدُهُ أَنَّهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أُوحِيَ إِلَيْهِ فِي رَمَضَانَ بِلَا خِلَافٍ، وَذَلِكَ عَلَى رَأْسِ أَرْبَعِينَ سَنَةً مِنْ عُمْرِهِ، فَيَكُونُ مَوْلِدُهُ فِي رَمَضَانَ وَهَذَا فِيهِ نَظَرٌ وَاللهُ أَعْلَمُ. (البداية والنهاية: ج٢، ص٢١٥).

“Pendapat kedua menyatakan bahwa beliau ﷺ dilahirkan pada bulan Ramadan. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dari az-Zubair bin Bakkar. Pendapat tersebut tergolong sangat asing. Dasar pendapat ini adalah bahwa Rasulullah ﷺ menerima wahyu pada bulan Ramadan, tanpa ada perbedaan pendapat mengenai hal tersebut, yaitu ketika beliau berusia genap 40 tahun. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa kelahiran beliau juga terjadi pada bulan Ramadan. Namun, pendapat ini masih perlu ditinjau kembali. Wallahu a‘lam.” (al-Bidayah wa al-Nihayah: Juz 2, Hal. 215).

Kesimpulan:

Meskipun terjadi perbedaan penentuan tanggal antara tanggal 2, 8, 9, 10, atau 12 Rabi'ul Awwal, seluruh sumber di atas bermuara pada satu kesamaan mutlak yaitu Rasulullah Saw lahir pada hari Senin. Perbedaan tanggal ini terjadi karena penulisan sejarah masa lalu yang mengandalkan ingatan hafalan sebelum adanya kalender digital yang presisi seperti sekarang. Bagi kita umat Rasulullah Saw, hikmah terbesar dari memperingati kelahiran beliau bukan terletak pada perdebatan tanggalnya, melainkan bagaimana kita mampu meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara terbaik untuk mensyukuri kelahiran Nabi sesuai dengan petunjuk beliau sendiri adalah dengan menghidupkan sunnah berpuasa di hari Senin. Wallahu ‘Alam.

Penulis : M. Muslihul Ulum

Daftar Pustaka:

Imam Muslim (W. 206 H), Shahih Muslim, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Lebanon, Tanpa Tahun.

Ibn Hisyam (W. 218 H), Sirah al-Nabawiyah li Ibn Hisyam, Dar al-Kutub al-’Arobi, Beirut, Lebanon, 1990 M, Sebanyak 4 Juz.

Muhammad Sulaiman (W. 1348 H), Rohmah lil ‘Alamin, Dar al-Salam, Riyadh, Arab Saudi, Tanpa Tahun, Cet. Pertama.

Ibn Katsir (W. 774 H), al-Bidayah wa al-Nihayah, Dar al-Fikr, Damaskus, Syuriah, Tanpa Tahun.

KH. Ahmad Ghozali Muhammad Fathullah, Irsyadul Murid, Pondok Pesantren al-Mubarok Lanbulan, Jawa Timur, Indonesia, 1445 H, Cet. 6.

=======================

======================

======================

======================

=======================




Posting Komentar untuk " Detektif Kalender Islam: Menelusuri Kelahiran Nabi Antara Teks Sejarah dan Kalkulasi Falak"