Home Khutbah Jum'at Penerapan Hukum Galak Gampil

Penerapan Hukum Galak Gampil

اَلْحَمْدُ ِللهِ، اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَحْيَ اْلإِسْلاَمَ بِعُلُوْمِ الْعُلَمَاءِ، وَأَحْيَ اْلأُمَّةَ بِنَهْضَةِ الْعُلَمَاءِ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِ اْلأَنْبِيَاءِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَتْقِيَاءِ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً نَرْجُوْ بِهَا الْفَوْزَ يَوْمَ الْجَزَاءِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ أَظْهَرَ اللهُ بِهِ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِسْلاَمِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وسلم عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. (أَمَّابَعْدُ) فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

قَالَ اللهَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: «لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا»

Hadirin yang dimuliakan oleh Allah

Dalam kesempatan yang berbahagia ini marilah kita selalu bersyukur kepada Allah swt, karena dengan kenikmatan Iman dan Islam yang diberikan kepada kita semua ini, kita sekarang bisa menjalankan perintah-Nya dan semata-mata semua ini untuk menambah rasa ketaqwaan kita kepada-Nya.

Hadirin yang berbahagia

Kita sebagai seorang muslim mukallaf memang selalu dituntut untuk melaksanakan semua perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya secara totalitas tanpa mengurangi sedikitpun. Namun yang perlu kita sadari bersama adalah bahwa setiap masing-masing orang mempunyai kekuatan dan kelemahan,  baik dari segi fisik maupun keimanan dan ketaqwaannya serta pengetahuannya tentang hukum-hukum Tuhan dan menjalankannya.

Untuk itu, berpedoman pada konsep dasar agama yaitu addinu yusrun, agama itu mudah dan tidak mempersulit para pemeluknya, maka para ulama’ mujtahid mengeluarkan beberapa pandangan hukum syar’i yang berkaitan dengan berbagai masalah kehidupan umat ini. Tentu saja al-Qur’an dan al-Hadist sebagai pondasi utama para ulama’ salaf dalam meletakkan berbagai macam hukum fiqhiyyah. Dan semua hukum tersebut diletakkan dengan selalu berlandaskan pada prinsip Maqooshid Syar’iyyah yang meliputi lima hal, yaitu Hifdz an-Nafs (perlindungan hidup dan keselamatan jiwa raga), Hifdz ad-Diin (perlindungan hak meyakini dan menjalankan agama), Hifdz al-‘Aql (perlindungan akan keselamatan, serta perkembangan dan pendayagunaan akal budi), Hifdz al-Maal (perlindungan hak atas harta benda atau kekayaan yang diperoleh secara sah), dan Hifdz an-Nasl (perlindungan hak keturunan).

Namun tidak jarang hasil interpretasi para ulama terhadap dua pondasi utama hukum fiqih terjadi silang pendapat dan perselisihan. Oleh karena itu, kita sebagai umat yang berfikir marilah perselisihan tersebut tidak kita jadikan bahan perpecahan, namun hendaknya perseli-sihan tersebut kita letakkan secara propor-sional, agar bisa menjadi solusi terbaik untuk memecahkan dan mengatasi berbagai proble-matika umat sekarang ini.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Dari latar belakang kemampuan untuk men-jalankan hukum syari’at, maka dari sisi hukum fiqhiyyah terdapat dua tingkatan hukum yang diberlakukan pada umat Islam; yang pertama adalah hukum yang berat atau hukum yang GALAK, dan hukum yang ringan yaitu hukum yang GAMPIL. Untuk itu dalam penerapannya, pendapat atau hukum yang berat seyogyanya atau diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai kekuatan untuk menjalankan hukum itu serta mengetahuinya. Sedangkan hukum yang ringan atau yang GAMPIL itu diperuntukkan bagi mereka yang belum tahu akan hukum itu serta lemah dan tidak sanggup melaksanakan hukum yang berat itu. Sebab dalam al-Qur’an sudah dijelaskan.

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. (al-Baqarah:286)

Hal ini juga dijelaskan di dalam kitab al-Mizan al-Kubra halaman 3 yang artinya:

Sebagaimana tidak diperbolehkan mencela perbedaan di antara syari’at-syari’at yang dibawa para Nabi, begitu juga tidak diperbolehkan mencela pendapat-pendapat yang dicetuskan para imam Mujtahid, baik dengan metode ijtihad maupun istihsan. Saudaraku! Lebih jelasnya engkau perlu mengerti, bahwa syari’at itu dilihat dari tuntutan dan larangannya dikembalikan pada dua kategori yaitu ringan dan berat, tidak hanya pada satu tingkatan. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Mizan. Dengan demikian orang-orang mukallaf dari segi keimanan dan fisiknya, dalam setiap zaman tidak terlepas dari dua kategori yaitu orang yang lemah dan orang yang kuat, dan barang siapa tergolong kuat, maka ia mendapatkan tuntutan agama berupa pendapat yang galak, dan barang siapa yang tergolong lemah maka ia mendapatkan khitob atau tuntutan berupa pendapat yang gampil. (al-Mizan al-Kubra, halaman 3)

Hadirin yang dimuliakan Allah

Demikianlah gambaran keluwesan hukum Tuhan yang tidak mempersulit hambah-Nya. Oleh karena itu, kalau ada orang yang bilang bahwa hukum Tuhan itu sulit maka bukan dari sisi hukum Tuhannya yang sulit. Akan tetapi dari sisi manusianya saja yang tidak mampu mengerti dan mempersulit diri. Untuk itu, marilah kita selalu berusaha menjadi manusia yang pandai dan bijak menempatkan suatu hukum masalah agar kehidupan ini bisa kita jalankan dengan tenang dan indah, dan akhir-nya mudah-mudahan kita semua tergolong orang-orang yang mampu menjalankan perintah agama secara totalitas amin, amin ya robbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Tambah komentar


Kode keamanan
Refresh

Berlangganan

Masukkan alamat email Anda, lalu klik tombol KLIK untuk berlangganan artikel kami

Tentang Kami

Galak Gampil adalah situs resmi yang memuat buku-buku karya santri Pondok Pesantren Ngalah yang secara langsung mendapatkan amanah dari pengasuh.... Selengkapnya

Kontak Kami

Jl. Ponpes Ngalah no 16 Purwosari Pasuruan
Telp. 0343-611250
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Website: GalakGampil.Ngalah.net
Facebook: Galak Gampil page

Term of Use

Seluruh artikel dan buku yang diposting dalam situs ini boleh dilihat, disalin, dicetak dan didistribusikan untuk tujuan non Komersial demi kemanfaatan seluas-luasnya.