Membaca Wiridan setelah Shalat

Sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin, setelah melaksanakan shalat mereka membaca wirid, baik secara berjama’ah maupun sendirian. Apakah amaliyah tersebut ada dasar hukumnya?
Wirid merupakan bentuk dzikir yang berupa bacaan kalimat thayyibah yang dilakukan setiap saat dengan harapan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan mendapat ridha serta ampunan-Nya. Di kalangan Nahdliyin, wiridan setelah shalat itu dilakukan secara bersama-sama yang diakhiri dengan do’a. Hal ini sesuai dengan perintah Allah Swt. yang berbunyi:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا وَسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً (سورة الأحزاب: 41-42)
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah Swt. Dengan berdzikir yang banyak, dan bertasbihlah kepadanya, pagi dan sore. (Qs. al-Ahzab: 41-42)
عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ ِللهِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَكَبَّرَ ثَلاَثاً وَثَلاَثِيْنَ وَقَالَ تَمَامُ الْمِائَةِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ اْلبَحْرِ.
Dari Bara’i, Nabi bersabda: Barang siapa (membaca) tasbih 33 kali, hamdalah 33 kali dan takbir 33 kali, lalu menyempurnakan (hitungan)100 kali dengan membaca kalimat:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
(Tiada tuhan selain Allah Swt., Dia sendirian, tidak ada yang menandingi-Nya, Dia memiliki kerajaan, Dia memiliki segala puji dan Dialah yang berkuasa atas sesuatau). (Irsyad al-‘Ibad, hal. 19. Sunan Abi Dawud)
Dengan demikian wiridan setelah shalat itu adalah hal yang sangat baik untuk dilakukan karena di dalamnya mengandung pujian-pujian kepada Allah Swt.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Membaca Wiridan setelah Shalat"

Posting Komentar